8. ADAB-ADAB BERDO’A
Setelah kita ketahui dan kita penuhi syarat-syarat terkabulnya do’a itu, maka harus kita ketahui dan kita penuhi pula adab-adab berdo’a. Karena dengan melaksanakan adab-adab berdo’a, maka dapat dipastikan do’a kita akan terkabul.

Ketahuilah, bahwa di dalam berdo’a yang kita hadapi itu adalah Allah, bukan lainnya. Dari itu, kita harus menggunakan tata-cara yang baik dan bersikap sopan satun kepada-Nya, sebagaimana kita harus menggunakan beberapa syarat yang telah kami jelaskan . Pokoknya, setiap kali berdo’a kita harus menggunakan syarat dan adab berdo’a, jangan sampai tidak.Adapun adab-adab berdo’a itu antara lain:

A.Diawali Dengan Basmalah, Hamdalah Dan
Shalawat.

Sebelum berdo’a, hendaklah kita dahului dengan bacaan: “Basmalah“, “Hamdalah” dan “Shalawat.”
Umpamanya:

“BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIMI. AL
HAMDU LIL LAAHI RABBIL ‘AALAMIINA.
ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA MUHAMMA-
DIN WA ‘ALAA AALIHI WA SHAHBIHI WA
SALLIM.”
Artinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada Nabi Muhammad, teriring keluarga dan segenap sahabat beliau.”

B.Diawali Dengan Istighfar.
Sebelum berdo’a, hendaklah kita dahulukan dengan memperbanyak membaca Istighfar dan bertaubat kepada Allah. Umpamanya membaca:


“ASTAGHFIRUL LAAHAL ‘ADLIIMAL LADZII
LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL
QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI.”
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Dzat Yang tiada Tuhan melainkan hanya Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”

C.Diawali Dengan Asma’ul Husna.
Sebelum berdo’a hendaklah didahului dengan menyebut salah satu dari nama-nama Allah yang husna (indah). Sebagaimana tersebut dalam firman
Nya sebagai berikut:

“WA LIL LAAHIL ASMAA-UL HUSNAA FAD –
UUHU BIHAA WA DZARUL LADZINA YUL-
HIDUUNA FII ASMA-IHU SAYUJZAUNA MA KAANUU YA’MALUUNA.”

Artinya:
“Dan bagi Allah itu mempunyai nama-nama
yang indah, maka berdo’alah kamu kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka nanti akan mendapatkan balasan dari perbuatan mereka.”

(Al-A’raf ayat 180)

Di samping itu Rasulullah SAW. telah menjelaskan, bahwa tatkala beliau lewat di depan seorang lelaki bernama Abu Iyasy Zaid bin Shamit Az Zuraqie
yang sedang shalat, lalu berdo’a:

“ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA BI ANNA
LAKAL HAMDA, LAA ILAAHA ILLAA ANTA,
YAA HANNAANU YAAMANNAANU YAA BA
DII’AS SAMAAWAATI WAL ARDHA, YAA-
DZAL JALAALI WAL IKRAAMI.”
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu, bahwa bagi-Mulah segala puji. TiadaTuhan melainkan hanya Engkau. Wahai Dzat Yang Maha Memberi lagi tempat tumpuan segala harapan. Wahai Dzat Pencipta langit dan bumi. Wahai Dzat Yang Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan.”

Mendengar doa’nya itu, lalu beliau bersabda:
“Sesungguhnya kamu telah memohon kepada Allah dengan menyebut Ismul A’dlom (nama-Nya yang agung),yang apabila dimohonkan dengan nama nama-Nya itu akan dikabulkan dan bila dimintai dengannya juga akan diberi.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah,
Abu Daud dan Nasa’ie)

D.Diulang Tiga Kali.
Bila berdo’a sebaiknya diulang tiga kali.
Sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud r.a.:
كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَاوُ إِذَا
دَعَادَعَا ثَلَاثًا وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ
ثَلَاثًا.
“KAANA ‘ALAIHISH SHALAATU WAS SA-
LAAMU IDZAA DA’AA DA’AA TSALAATSAN
WA IDZAA SA-ALA SA-ALA TSALAATSAN.”

Artinya:
“Adalah Nabi a.s. Apabila beliau berdo’a, berdo’a tiga kali, dan apabila meminta juga meminta tiga kali.”
(Diriwayatkan oleh Muslim)

Berdo’a atau meminta sesuatu kepada Allah yang diulang-ulang tiga kali itu adalah menunjukkan kesungguhannya di dalam berdo’a atau meminta. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 186 yang menyatakan:
اجِبْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إذَا دَعَانِ
UJIIBU DA’WATAD DAA’I IDZAA
DA’AANI…”
Artinya:
“… Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdo’a apabila ia (benar-benar) berdo’a kepada-Ku …”

E.Menghadap Kiblat Seraya Menadahkan
Tangan.

Berdo’a menghadap kiblat di kala duduk sesudah shalat adalah sa’at yang paling tepat sembari menadahkan kedua tangan. Sebagaimana Abu Musa Al-Asy’ari r.a. berkata:
دَعَا النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَأَمَ
ثُمَّ رَقَعَ يَدَيْهِ وَرَايْتُ بَيَاضَ إِنْطَيْهِ
“DA’AN NABIYYU SHALLAL LAAHU ‘ALAIHI
WA SALLAMA TSUMMA RAFA’A YADAIHI
WARA-AITU BAYAADHA IBTHAIHI.”
Artinya:
“Nabi SAW. berdo’a, beliau mengangkat kedua tangannya, dan aku melihat kedua ketiaknya yang putih.”

Demikianlah di antara adab-adab berdo’a yang harus dilaksanakan di kala berdoa’a, agar do’a kita
nanti mendapat pengabulan di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dilarang Keras Copy Paste ,Untuk Copy Paste Harap Cantumkan Sumber
Asroful Huda » Adab Adab Berdo’a

Leave a Reply